Tuesday, August 4, 2015

Renungan: Rejeki itu Soal Rasa

Di antara makna rizki ialah segala yg keluar & masuk ke dlm diri ini dilihat dari sudut anugerah-manfaat yg sejati.

Kasur yg empuk dapat terbeli,
Namun tidur yg nyenyaklah rizki sejatinya,
Ia dapat saja bersemayam di atas koran yg lusuh & bukan di atas ranjang kencana.

Hidangan mahal dapat dipesan,
Tapi diizinkan menikmati lezatnya hidangan adalah sejatinya rizki,
Ia dapat saja terkaruniai di wadah daun pisang & bukan beralas piring emas permata.



Ada yg bergaji 100jt/bulan,
Senilai itukah rizkinya?
Hendak makan lezat segar manis & legit,
"Ingat, kadar gulanya!"
Hendak melahap yg gurih berupa renangan dedagingan di kolam bersantan,
"Awas, kolesterol!"
Bahkan sup bening dgn butiran garam tertabur pun,
"Pak, tekanan darahnya!"
Rasa nikmat itu terkurangi.

Nikmat yg berupa rasa yg terindera dari sifat maslahatnya.
Rizki sama sekali bukan soalan apa yg sanggup dibeli,
Bukan pula tentang apa yg dimiliki,
Bukan juga soal apa yg dikuasai,

Tapi..
Ini soal rasa.
Bahkan dia yg dalam lingkup pandangan kita adalah seorang yang kaya raya,
Bisa jadi dengan limpahan hartanya itu Allah mulai membatasi rizkinya,
Banyaknya harta bukanlah ukuran banyaknya rizki yg hakiki.
Maka,
"Sungguh beruntung seorang yg memeluk Islam, kemudian diberi rizki yg secukupnya."
Keberuntungan itu bukan karena banyak atau sedikitnya,
Namun karena di secukupnya rizki itu;
"Allah anugerahkan kepada pemiliknya sifat qana'ah (merasa cukup & puas) dgn rizki yg diberikan oleh-Nya."
Begitu kata Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya yg diriwayatkan Imam Muslim.
Rizki terbesar adalah bagaiman soal rasa kita terhadap rizki itu,

Ini soal rasa,
Ini adalah lapis-lapis keberkahan.

No comments:

Post a Comment